“Larangan-Nya.
Perintah-Nya.
Semuannya tersurat dan tersirat dengan jelas dalam kitab-Nya.
Aku tertegun, ketika ku baca bait ayat-Nya.
Terlalu banyak diri ini berbuat yang tak seharusnya.
Aku sibuk dengan segalanya, hingga aku lupa taqarrub kepada-Nya.
Aku tak mampu melanggar batasan-Nya, aku tak sanggup menjauh dari-Nya, dengan sujud kepada-Nya hati ini menjadi tenang.
Aku tak ingin cinta yang lain, kecuali cinta kepada-Nya.
Izinkan aku berdua dengan-Nya, melalui malam dengan penuh cinta, kasih dan sayang Allah SWT..”
Ungkapan di atas membuatku tersungkur bersujud mengingat kesibukan-kesibukan yang tak seharusnya ku lakukan, kesibukan yang membuat dosa menjadi menggunung tinggi, aku membayangkan dosa-dosa yang sedang ku pikul tanpa kusadari seolah-olah telah bertumpuk di kedua pundakku dan membuat jalanku tak terarah pada posisi yang seharusnya/benar.
Tak kusadari tetesan air mata jatuh membasahi pipi, tangan hingga sajadah yang ku duduki. Aku merasa malu kepada-Nya, di saat susah aku mengingatnya untuk meringankan kesulitanku tetapi disaat senang aku melupakannya seolah-olah Dia tak pernah hadir dan tak pernah berperan atas kehadiranku di dunia ini.
Rasa bersalah ini tak henti-hentinya menghantuiku setiap hari, setiap detik dan setiap waktuku hanya rasa bersalah yang ku rasakan. Tuhan…. apakah aku masih layak menjadi hamba-Mu?, apakah aku masih layak untuk memohon pada-Mu?, apakah dosaku layak untuk di hapuskan?, apakah aku aku dapat mencapai surga-Mu?. Tuhan aku takut akan neraka-Mu namun aku juga tidak layak menuju surga-Mu, aku takut akan Dirimu menjauh dariku dan meninggalkanku.
Petikkan ungkapan di atas ku peroleh via pesan singkat dari handphoneku. Ungkapan tersebut dari seseorang yang di anugerahkan oleh Allah SWT, ungkapan yang mengetuk pintu hatiku sehingga ku terbangun dari tidur. Aku sangat bersyukur Tuhan menganugerahkan teman sepertinya, thanks God.
Malam itu aku sedang sibuk mengirim pesan singkat kepada seluruh teman yang nomor handphonnya tersave di handphoneku, sambil menyaksikan sebuah acara sembari aku mengirim pesan singkat berisi acara yang sedang ku tonton saat itu. Ada beberapa orang teman yang merespon pesan singkat yang ku kirim, tetapi hanya satu orang yang membuatku tertegun sejenak ketika ku baca pesan singkatnya.
Namun lamunan tak berlangsung lama melainkan hanya berlalu beberapa menit saja, pikiranku kembali fokus kepada acara televisi yang ku tonton bersama tiga orang keluargaku. Keluarga yang terdiri dari paman, bibi dan sepupu perempuanku.
Sambil duduk di depan layar televisi yang berukuran 29 inch membuat mataku terbelalak besar, di dalam ruangan berukuran panjang 6x7 meter dengan suasana dingin yang mencekam terasa menusuk hingga ketulang-tulang dan di temani dengan secangkir kopi hangat serta sedikit makanan ringan, sembari jari jempol sibuk mengetik keyped handphone yang berada di gengaman tangan kiriku.
Pesan singkat yang ku kirim ke mereka beredar pada waktu larut malam sekitar pukul 22 ke atas, dimana waktu tersebut merupakan waktu orang-orang beristirahat. Namun tak terpikir oleh ku saat itu bahwa aku mengganggu waktu istirahat mereka.
Setelah aku mengirim pesan berupa informasi acara televisi yang ku tonton, tak lama beselangnya waktu sekitar 10 menit, aku kembali memperoleh pesan singkat dari seorang teman diskusiku. Awalnya isi pesan singkat itu berupa komentarnya, setelah itu disusul dengan pesan singkat kedua oleh orang yang sama juga, pesan singkat ini bukan berupa lanjutan respon dari pesan acara televisi yang ku kirim, melainkan dia mengajakku membuka forum diskusi, kami memang sering melakukan diskusi via pesan singkat.
Kali ini untuk yang kesekian kalinya ia mengajakku disikusi hingga larut malam, temanku yang satu ini mengidap penyakit insomnia oleh sebab itu dia sering tidur larut malam. Ia menawarkan untuk menemaninya hingga matanya lelah dan tertidur, dengan cara sms-an, aku menerima tawarannya dengan senang hati karena tidak menggangu kesibukanku, kenapa aku katakan demikian karena pada waktu yang bersamaan aku sedang menyaksikan acara di televisi jadi pada waktu itu bukan waktu tidurku dan aku tak merasa terganggu.
Untuk kali pertama ia memintaku untuk menetukan tema diskusi kami, namun saat itu aku tidak dapat memikirkan tema yang menarik untuk dibahas karena pikiranku fokus ke acara yang ku tonton. Maka ia yang mengambil alih untuk menentukan tema yang akan dibahas, kali ini dia membuka forum kejujuran. Dimana di dalam forum tersebut diminta untuk berkata sejujur-jujurnya namun jika hal itu berat atau merupakan rahasia yang tidak bisa diungkapkan maka kita berhak untuk diam.
Sebelum membuka forum kami terlebih dahulu membuat kesepakatan yang berupa ketentuan berlanjut dan terhentinya forum ini. Dan dia memberikan penawaran bahwa ketentuan pertama jika hal itu rahasia maka kita memiliki hak untuk diam. Ketentuan kedua di tuntut untuk berbicara jujur. Ketentuan ketiga yaitu setelah pertanyaan di terima dan hendak mengirim jawaban kembali kepada si penannya, maka jawaban tersebut harus diikutsertakan dengan pertanyaan kita untuk si penannya. Ketentuan terakhir atau keempat yaitu jika telah lelah ataupun mengantuk maka forum akan ditutup.
Dan pertanyaan awal di mulai dari dia, pertanyaan serta jawaban terus berjalan hingga kami lelah. Namun saat itu masing-masing dari kami hanya memiliki kesempatan mengajukan dua pertanyaan serta memperoleh dua jawaban, dan yang menutup forum tersebut adalah diriku karena mataku telah lelah, namun bukan hanya mataku lelah tetapi acara yang ku tonton juga telah selesai.
Saat itu aku belum begitu tersentuh dengan pesan singkat yang kuperoleh, yang berisi petikan di awal tulisannku. Aku begitu menikmati keindahan dunia hingga terhanyut dan tulisan itu hanya membuatku tertegun sejenak, tidak untuk membuatku langsung mengingat dosa-dosaku.
Berselang satu hari, aku kembali membuka inbox (kotak masuk) di handphone ku. Dan kembali ku baca pesan itu, pada hari itu di dalam sunyiku aku merasakan sentuhan dari sang Khalik mengingatkanku akan waktu yang telah ku lalui. Saat itu ku sadari bahwa aku belumlah melakukan hal yang selayaknya ku lakukan, aku hanya memfoya-foyakan waktuku dengan aktivitas yang tak membuatku berada di jalan yang semestinya ku lalui.
Pada hari itu, terpikir olehku untuk tidak berhubungan sama sekali kepada teman-teman yang sering mengajakku sms-an, sekalipun itu sahabatku. Aku sudah berpikir matang selama kurang lebih 12 jam lamanya untuk mempertimbangkan hal yang akan kulakukan. Malamnya sebelum mataku terlelap, jari jempol kananku kembali sibuk menekan keypad handphoneku, di layar handphone ku tulis sebuah rangkaian ungkapan maaf beserta pernyataan.
Rangkaian maaf ku tulis dengan harapan aku dapat bersih dari kesalahan yang telah ku lakukan kepada mereka dan apabila malam itu adalah malamku tertidur tuk selamanya maka sedikit dosaku kepada manusia terhapuskan, kepada mereka khususnya.
Sedangkan sebuah rangkaian yang berupa pernyataan itu adalah sesuatu yang menyatakan bahwa untuk satu bulan aku tidak ingin di hubungi baik itu berupa pesan singkat maupun menghubungi secara langsung (call), terkecuali ada keperluan yang sangat penting. Jika hanya menanyakan kabar, aktivitas dan hanya sekadar mengirimkan sebuah kata-kata, untuk sementara di pending dulu.
Setelah kalimat terangkai dengan rapi dan jelas, aku mulai mengirim pesan singkat itu kepada teman-temanku, baik untuk mereka yang sering call maupun yang sering sms. Awalnya jari jempol kananku terasa berat untuk mengirim pesan singkat itu kepada mereka, namun dalam pikiranku saat itu menyatakan bahwa hal yang ku lakukan merupakan hal yang dapat membuatku merasakan ketenangan karena telah mengikuti kata hatiku dan dapat berprilaku yang semestinya ku lakukan, bukan melakuan sesuatu yang tak semestinya ku lakukan.
Sambil merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan mengarahkan tatapan ke depan melihat layar televisi yang sedang bercerita sembari aku melihat putaran detik jarum jam. Putaran detik jarum jam terus kulihat, karena perasaan bimbangku menunggu balasan dari mereka. Tak lama beberapa menit kemudian aku memperoleh beberapa pesan dari mereka. Mereka menyatakan persetujuan atas pesan singkat yang telah di perolehnya, dan mereka tidak menanyakan alasanku secara terperinci karena di dalam pesan singkat yang kukirim telah ku ikutsertakan kalimat “jangan tanyakan kenapa”, dan mereka sudah cukup mengerti dengan hal itu, karena ungkapan petikan pada awal ceritaku yang juga ikut ku kirim ke mereka dapat mewakilkan maksudku.
Namun masih ada beberapa teman yang masih belum mengerti dan menanyakan alasan yang pasti, dan aku mencoba menjelaskan kepada mereka dengan perkataan yang mudah di pahami. Setelah ku perjelas maksudku, awalnya mereka juga terasa berat untuk melakukannya namun mereka salut denganku karena aku membuat mereka juga ingin mencoba melakukan hal yang sama.
Isi rangkaian sebuah pernyataan yang ku tulis menyatakan bahwa aku ingin muhasabah (introspeksi diri) dan mencoba untuk zuhud (menghindari cinta dunia dan meninggalkan hasrat memilikinya), hanya untuk mencapai ketenangan. Dengan pesan seperti itu, aku membuat mereka menangis. Ketika ku ketahui bahwa setelah menerima pesanku, mereka merasa terketuk pintu hatinya lalu menangis, aku merasa sangat bersyukur dan sangat senang karena aku di berikan jalan kemudahan untuk berbagi teman-temanku bersama-sama menuju hadirat Ilahi.
Menurutku dengan introspeksi aku dapat mengalakan ketika hawa nafsu dan syahwat mampu menguasaiku. Karena hawa nafsu yang dapat menghalangi hati dari introspeksi adalah hawa nafsu yang selalu bergantung pada syahwat dan cenderung pada kesenangan. Hawa nafsu ini mempunyai kemampuan untuk melemahkan jiwa dan menguasai hati sehingga mengikuti ajakannya.
Jadi untuk menghukum hawa nafsu atas dosa yang dilakukan yaitu dengan cara memisahkan antara ia dan kesukaannya dengan mengambil cambuk untuk menakutinya. Melakukan pengawasan secara terus menerus setiap geraknya; Mengurangi makanannya; Biarkan ia dalam kehausan ; Sibukkan ia dengan kerja keras; Mencabut kenikmatannya; Menahan amarah dengan ancaman yang memberinya pelajaran. Dengan semua itu, aku dapat menundukkan kekuatannya dalam melemahkan jiwa dan penguasaanya terhadap hatiku.
Maka pada saat itu nafsu menjadi hina. Ia akan tunduk kepadaku setelah kekuatannya lenyap dan kekuasaannya hilang. Dan, ia akan menempuh jalan yang lurus dan konsisten menapakinya (istiqamah) menuju Penciptanya. Hanya kepada Allahlah aku memohon pertolongan (taufiq).
Setelah melakukan muhasabah aku belumlah dapat dengan mudahnya menuju ketenangan yang sesungguhnya atau ketenangan yang ku inginkan karena iblis mempunyai banyak perangkap dalam menjebakku mengikuti ajakannya untuk keluar dari jalan Tuhan dan mengikuti jalannya.
Hari berganti hari aku mencoba belajar untuk zuhud yaitu belajar untuk menghindari diri dari cinta dunia dan meninggalkan hasrat untuk memilikinya maksudnya aku condong kepada seruan Allah dengan melupakan kenikmatan sesaat yang ditimbulkan oleh hawa nafsu.
Namun mengenai komunikasi yang di pending selama satu bulan aku tidak dapat merealisasikannya, karena hal itu hanya berlangsung selama 3 hari lamanya. Aku tidak bisa jauh dari teman-temanku, karena aku ingin bersama-sama berjuang menuju hadirat ilahi untuk menemukan ketenangan yang sesungguhnya. Aku tidak boleh egois, hanya merasakan ketenangan itu sendiri, aku juga ingin temanku ikut merasakan kebahagian.
Ketenangan sesungguhnya ku rasakan ketika ku mulai berbagi, karena dengan aku berbagi kepada orang lain aku merasa hidupku terasa lebih berarti. Lalu membebaskan hati dari rasa benci, karena menyimpan benci, marah atau dengki akan membuat hatiku tidak nyaman dan tersiksa. Kemudian aku mencoba untuk murah dalam memaafkan kesalahan orang lain, karena dengan sikap demikian hati akan menjadi tenang dan amarah bisa hilang. Setelah itu aku melakukan hal yang bermakna, karena kita semua tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara untuk berlakon, oleh sebab itu kita selaku actor sebaik-baiknya menggunakan waktu dan kesempatan yang ada untuk melakukan hal-hal yang bermakna serta sesuai dengan aturan sutradara (Allah). Maksudnya kita memanfaatkan waktu yang telah diberikan untuk diisi dengan hal-hal yang bermakna, baik itu untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain. Maka dengan cara seperti ini kita akan bertambah dan terus bertambah kebahagiaanya. Dan terkahir aku mencoba untuk tidak berharap atau bergantung pada orang lain karena aku takut kecewa.
Kebahagiaan merupakan tanggungjawab masing-masing, bukan tanggungjawab teman, keluarga, kekasih atau orang lain. Lebih baik kita perbanyak harap hanya kepada Yang Maha Kasih dan Kaya. Karena Dia-lah yang menciptakan kita dan Dia-lah yang menciptakan segala rasa, termasuk rasa bahagia/tenang yang selalu kita inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar