Pengalaman yang terbentuk dalam perjalanan hidup kita, secara alamiah sesungguhnya membutuhkan media untuk mengalihrupakannya ke dalam bentuk transformasi gagasan (curhatan sharing ide, diskusi) agar pesan-pesan pengalaman itu diterima oleh lebih banyak orang dan lebih banyak kemungkinan alih wahana (misalnya dibukukan, disiarkan, atau difilmkan).
Diranah kepenulisan, banyak pengarang yang menuliskan pengalamannya dan menerbitkannya menjadi buku yang laris bahkan menciptakan sebuah film yang laris. Seperti Andrea Hirata seorang penulis buku dan film Laskar Pelangi, yang isi dari ceritanya merupakan pengalaman hidupnya.
Ada orang yang hidupnya penuh dengan pengalaman negative, kemudian bisa memetamorfosakan pengalaman hidupnya menjadi perilaku yang positif, dan menjadi kreatif menuangkan pengalaman tersebut ke dalam berbagai bentuk media. Ada pula orang yang memang pembawaannya tidak bisa menarik pelajaran dari pengalaman hidup yang sekecil apapun, dalam bentuk apapun. Maka pengalaman itu tidak secara otomatis menjadi semacam energi kreatif.
Dalam kehidupan ini ada begitu banyak peristiwa dan gejala, kita bisa menangkap peristiwa dan gejala itu sebagai letikan ide kreatif untuk menulis. Caranya adalah dengan menumbuhkan sensitivitas dan proses belajar terhadap segala sesuatu. Jika kita sensitive, kita akan bisa menyerap banyak dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita atau peristiwa yang kita alami sendiri.
Jika kita melanjutkannya dengan belajar, kita memiliki kapasitas analitik terhadap gejala dan fenomena yang terjadi, juga gemar dengan riset, maka kita akan mempunyai banyak stok pengalaman berharga untuk ditulis, bahkan dimensi yang lebih luas untuk mengolah kreativitas. Untuk menulis memoar, pengalaman hidup saja tidak cukup, harus banyak studi literature dan riset untuk memperkaya tulisan.
Masalah pengalaman hidup dalam bentuk tulisan menarik atau tidak, yang menilai orang lain. Akan tetapi, paling tidak kita dapat mengambil segmen “berbicara” denga bahasa nonfiksi popular sehingga – mungkin – sedikit lebih mudah dipahami ketimbang mengambil gaya tulisan akademik.
Ada fenomena orang besar yang memiliki pengalaman besar namun tidak bisa atau tidak jadi penulis dari cerita kehidupannya sendiri. Hal itu terjadi, mungkin, karena mereka tidak menganggap pengalaman hidup mereka tidak perlu untuk diperjuangkan dan bukan prioritas yang relavan. Menulis itu kemampuan sekolah dasar. Tetapi, kemampuan apa pun yang tidak dikembangkan, perlahan-lahan akan lemah, menghilang.
Dalam menangkap dan mengolah pengalaman hidup menjadi tulisan yang baik, yang pertama kita harus lakukan adalah mencatat segala kejadian yang menurut kita penting diketahui secra pribadi maupun kolektif. Rajin-rajinlah mencatat, merekam, dan menuliskannya secara spontan. Menulislah tanpa terlebih dahulu berpikir tentang tema, judul, dan urutan kronologis. Ditulis saja, mengalir saja. Gunanya agar kita tidak kehilangan momentum. Setelah kejadian-kejadian tersebut ditulis, alokasikan waktu untuk menjadikannya satu tulisan yang utuh.
Dari proses yang dilalui, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika kita telah mencatat peristiwa, mengalokasikan waktu untuk mengembangkan, maka inti atau makna atau pesan tulisan kita akan “lahir” tanpa dibuat. Kalau kita bisa mengemasnya menjadi satu cerita yang mengalir, saya kira potensi penerbitan buku memoir atau pengalaman hidup akan sangat bagus. Bila kita mengemasnya salah, buku tersebut hanya sekadar jadi buku kumpulan peristiwa, yang mana bisa mengakibatkan naskah tersebut berakhir sebagai produk tanpa alur, kurang menarik, sehingga tidak diminati. Namun apabila kita pandai mengemasnya, bisa menuangkan pengalaman itu dalam sesuatu bentuk logika cerita, maka prospeknya besar.
Namun, pesan saya, apa pun yang terjadi tetaplah menulis karena banyak manfaatnya – mengasah pikiran, membuat pikiran lebih berkembang, mendorong minat membaca. Tidak terbatas bagi sang penulis saja, melainkan juga bagi pembaca di luar sana. Sebaik-baik orang adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar